THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 09 Desember 2010

cerpen Horor

cerpen- buku harian dan pena kematian part 6(ending)

Saat aku terjaga, ternyata kedua tanganku telah terikat kuat di sebuah tiang penyangga di depan ruang UKS sekolah. Di depanku, terlihat samar sesosok bayangan. Terdengar pula desah nafas yang cukup cepat seperti orang yang habis melakukan hal yang berat atau mungkin habis di kejar setan. Pandanganku masih kabur. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas siapa itu. Saat mataku mulai berfungsi normal, aku dapat melihat Tomi terbaring lemas berlumuran darah. Ia masih bernafas. Di sampingnya, Kevin sedang terduduk lesu. Aku melihatnya sedang merintih sambil memegangi tangannya yang terluka.“Kevin…kenapa gue diikat disini..? lepasin gue..!!!”,teriakku.Kevin terkaget mendengar ucapanku.“kamu udah sadar Vir…? Syukurlah…”,tanya Kevin seraya bersyukur.“kamu pikir aku kenapa…? Cepetan lepasin ikatan ini.. sakit nih..”,kataku,merintih.“eeeh…iya…iya.. ”,jawab Kevin kikuk.Kevin pun melepaskan tanganku dari ikatan kuat itu. Sejenak kami terdiam. Mataku tertuju ke arah Tomi yang terbaring tak berdaya di samping Kevin,kemudian menujukan pandangan sinis ke arah Kevin.“bisa kamu jelasin tentang apa yang terjadi..?”,tanyaku dengan pandangan sinis tertuju ke Kevin.Kevin mengangguk. Terbaca keraguan dari gerak-geriknya.“jelasin Vin..kenapa Tomi bisa sampai kayak gini…kenapa aku terikat disini..? terus kenapa tangan kamu terluka……? Jelasin sama aku Vin..”,tanyaku,memaksa.Sedetik,dua detik, tiga detik. Kesunyian benar-benar terasa saat itu. Kevin tak kunjung berucap.Kevin memandang ke arahku dengan raut muka serius. Sedetik kemudian terdengar penjelasan dari mulut Kevin.“tadi malem kamu kerasukan arwah setan itu Vir.. kamu berusaha nyerang aku pake pena itu.. aku ngehindar dan lari. Tapi kamu ngejar aku terus. Entah dari mana kamu tiba-tiba bisa pegang pena itu buat nyerang aku. Padahal sebelumnya pena itu aku yang pegang. Aku lari dan bersembunyi di kamar mandi deket ruang guru. Ternyata disitu aku nemuin Tomi tergeletak.”,Kevin menjelaskan.Aku terdiam mendengar penjelasan Kevin. Apakah benar apa yang di katakana Kevin..? haruskah aku mempercayainya..?tapi kalau bukan dia siapa lagi yang bisa memberiku penjelasan yang lebih baik dari Kevin..?? tomi..? itu bahkan lebih tidak mungkin lagi karena sejak awal Tomi telah tak sadarkan diri. Hatiku terus saja beradu tanya dengan otakku.“ya..empunya buku itu pernah berjanji akan membuatku melakukan hal keji yaitu membunuh sahabatku sendiri.. dan hal itu hampir saja terjadi.. maaf Kevin..maafin aku.. aku udah biarin Arwah sialan itu jajah tubuh aku buat pelampiasannya.. aku bener-bener gak sanggup ngelak Vin..maafin aku…”,kataku dengan nada dan wajah menyesal.“ya sudahlah..semuanya telah terjadi.. kita ambil saja hikmah dari semua ini.. gak usah ngerasa bersalah gitu.. santai aja..”,Kevin menenangkan. Aku hanya tersenyum tak membalas perkataan Kevin.Matahari mulai menjanjikan kehidupan untuk hari ini dengan sinat hangatnya. Itu tandanya hari sudah mulai pagi. Terlihat peti itu bertengger manis di bangku yang tak berada jauh dari kami. Aku segera berdiri dan berjalan gontai dengan kepala yang masih terasa berat menuju ke arah dimana benda itu berada. Ku raih benda itu. Aku menoleh ke Kevin untuk meminta persetujuan.“Bakar Vir..bakar..”,Kevin meyakinkan.Aku mengangguk tanda setuju.kemudian ku raih sebuah korek api di saku rokku. Dengan yakin aku mulai menyulutkan api ke buku tersebut kemudian memasukkannya ke dalam peti yang juga telah terisi pena kematian tersebut. Tak butuh waktu lama untuk benda rapuh yang biadap itu terbakar. Akupun berbalik arah menghampiri Kevin dan Tomi yang terkulai lemas. Ku pososikan diriku berada di antara Kevin yang sedang merintih kesakitan dan Tomi yang masih tak sadarkan diri. Ku tujukan pandanganku ke arah peti dan isinya yang sedang terbakar. Terdengar sebuah jeritan nyaring yang benar-benar menyakitkan telinga yang berasal dari dalam peti tersebut. Jeritan yang lebih menyakitkan dari pada yang ku alami beberapa waktu lalu. Senyuman kemenangan tersungging manis di ujung bibirku.‘Lelah sekali rasanya..’,bisikku dalam hati.Ini adalah petualangan menegangkan yang benar-benar nyata dalam hidupku. Lebih ekstrim dari mimpi yang paling ekstrim sekalipun. Akhirnya aku, sahabatku Tomi dan sahabat baruku Kevin dapat kembali menjalani hidup yang normal seperti dahulu meskipun tanpa Niko dan juga Rista. Biarpun Tomi dan Kevin mengalami luka yang cukup serius,setidaknya mereka masih hidup dan tetap menjadi sahabatku.***TAMAT***

0 komentar: